Mengenai Saya

Foto Saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Ariyanti, seorang mahasiswa jurusan Akuntansi Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) 2008. Ceria, senang bersosialisasi dan bercanda, visioner, penuh motivasi, selalu ingin membuat orang disekitarnya bahagia. Don't hate me because you aint me!!

Minggu, 23 Oktober 2011

My Hijab Stories Part II

Oke! Mari kita ngelanjutin blog sebelumnya. Saya masih ingat benar dengan apa yang Almarhum kembaran saya katakan pada saya bahwa jangan pernah alasan apapun digunakan untuk menunda memenuhi kewajiban kita untuk memenuhi perintah Allah. Bener banget! Dan saya sangat setuju dengan statement tersebut! Hal ini juga disebutkan dalam Quran surat An-Nur ayat 31 “Dan hendaklah mereka (wanita yang beriman) untuk menutupkan kain hijab (jilbab) hingga ke dada mereka”. Semuanya jelas tertulis di surat tersebut.

            Ya, semua alesan di atas semakin dimantapkan lagi oleh Allah dengan salah satu sahabat saya, dimana dia menurut saya dia sedang berada di puncak kesuksesannya terpilih menjadi finalis Abnon, cantik, multi talented tiba-tiba dia memutuskan untuk berhijab. Kedengarannya aneh sih, ga ada angin ga ada ujan tiba-tiba secepat kilat dia berhijab. Tapi, Allah memang Maha Besar, bisa membolak-balikan hati seseorang dalam waktu singkat. Semenjak saat itu, semua yang saya dengar dan saya lihat selalu berhubungan dengan jilbab dan jilbab. Saya pikir mungkin itu hidayah dari Allah untuk saya agar saya lebih dimantapkan lagi hatinya. Insya Allah. Amin. Selain itu juga, terakhir saya ingat hari Minggu setelah saya pulang dari makam kembaran saya, saya mendengar ceramah tentang kewajiban seorang muslim dan ceramah tersebut terdapat kata-kata yang selalu saya ingat "Berhijablah selagi engkau masih bernyawa karena umur hanya Allah yang tau dan tanamkan keyakinan di dalam diri kita bahwa hijab itu merupakan kewajiban sama seperti kita berkewajiban untuk percaya kepada Allah dan Rasulullah Saw. Menurut ustad tersebut berhijab akan melindungi kita dari panas api neraka, dimana panas matahari dunia hanya setitik dari panasnya api neraka. Ya, itu seperti yang tertulis di Alquran “Api neraka jahannam itu luar biasa panasnya jika mereka mengetahui.” (QS. At-Taubah: 81)

Ustad itu juga menyinggung tentang hubungan antara jilbab dan jodoh. Menurut dia suka ada dan memang banyak menurut saya, orang yang berpikiran kalo udah nikah aja baru berjilbab. Apa orang itu mikir kalo dengan berjilbab jadi susah jodohnya? Kalo ia, itu merupakan pemikiran yang salah besar! Menurut ustad itu, semua lelaki yang SOLEH pasti ingin menikahi wanita yang SOLEHAH. Menurut lelaki SOLEH wanita yang memakai jilbab itu lebih menarik karena para lelaki ingin wanita shalilah yang nantinya bukan hanya menjadi istri, tapi juga menjadi ibu dari anak-anaknya. Allah pun sudah menjelaskan dalam Al-Quran bahwasanya WANITA YANG BAIK JODOHNYA UNTUK LAKI-LAKI YANG BAIK DAN BEGITUPUN SEBALIKNYA. Jadi, jika kita ingin mendapatkan jodoh yang baik dan soleh yang bisa menuntun kita ke surga pertama kali yang harus dilakukan adalah memantaskan diri kita untuk mendapatkan calon yang kita inginkan. Jangan berharap kita bisa mendapatkan pasangan hidup yang baik sebelum kita memperbaiki diri kita sendiri,
Menurut ustad tersebut  “Wanita itu dinikahi karena 4 hal yaitu agamanya, hartanya, kecantikannya, keturunannya”. Jadi kalau diibaratkan dalam matematika agama itu seperti angka 1 dan faktor pendukung lainnya seperti  kecantikan, harta, dll disimbolkan dengan angka 0.  Jadi berapapun banyaknya faktor pendukung yang ada dalam diri seorang wanita, tapi kalo dia tidak seiman dan soleh, maka bisa dipastikan nilai wanita itu akan 0. Tapi wanita itu beriman dan soleh berarti ia sudah punya angka 1. Kemudian dia cantik, tambah lagi 0 jadi 10. Sebenernya dengan kita berhijab maka Allah secara tidak langsung akan mempertemukan kita dengan pria yang shaleh, baik, penyayang, cerdas dan yang paling utama adalah ia bisa membimbing kita menuju surga. Percayalah bahwa dengan berhijab, masalah pekerjaan, rezeki, jodoh dan semuanya tinggal kita serahkan pada Allah. Insya Allah, Allah akan memberikan kita yang terbaik sebagai umatnya yang telah mematuhi kewajibannya.

Percayalah bahwa selama apa yang kita kerjakan adalah untuk melaksanakan segala perintah-Nya, maka Allah akan selalu bersama kita Kalau kita mendahulukan Allah maka Allah akan memberi kemudahan pada kita dan hidup kita menjadi lebih barokah. So, jangan pernah takut untuk berhijab. Just keep walking, ok! :)

My Hijab Stories Part I


Hello!! Long time not writing here. Well, this time I want to write about my hijab experience. FYI, this is my first week I wear my hijab and I want to share all about it.


Jujur, menurut saya memutuskan untuk berhijab itu ga gampang, semudah membalikan telapak tangan. Butuh waktu dan proses yang cukup lama sampai saya benar-benar yakin kalau saya akan memakainya selamanya, bukan hanya dalam jangka pendek semata. Sebenernya ada alasan utama kenapa saya memutuskan untuk menggunakan jilbab, yaitu kematian.  Kematian kembaran saya 4 bulan yang lalu menjadi semacam wake up call bahwa banyak loh yang meninggal di usia yang masih sangat muda. Jadi saya berpikir  kalau memang di saat muda ini saya sudah bisa memakainya kenapa harus ditunda sampai tua? Karena saya ga pernah tau pasti kapan saya  akan dipanggil kembali menghadap-Nya. I can't guarantee that tomorrow I'm still alive. Hal ini tertulis jelas di Al-Quran  “Tiap-tiap umat punya batas waktu maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurnya sesaatpun dan tidak dapat memajukannya.” (QS.7:34). Sehingga saya berpikir betapa bahagianya jika suatu saat saya kembali kepada-Nya dalam keadaan berhijab dan taat pada-Nya.

Sempet juga saya berpikir kalau saat ini saya belum terlalu siap untuk berhijab di lingkungan yang sebagian besar non-muslim. Gimana ya kalo nanti saya udah pake terus dilepas? Apa kata orang? Dalam kebimbangan tersebut, saya berdoa kepada Allah agar memantapkan hati saya agar saya bisa menyegerakan niat mulia tersebut. Dan semua doa tersebut bermuara pada satu kesimpulan di dalam hati saya bahwa semua amalan itu tergantung niatnya. Jadi pada saat saya berniat untuk memakai jilbab, saya terus meyakinkan hati saya bahwa apa yang saya lakukan ini akan seterusnya dan saya terus memohon kepada Allah agar semakin dimantapkan hati ini. Kalau misalkan memang di tengah jalan ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana, maka itu diluar kekuasaan saya sebagai mahluk-Nya. Tapi jika dari awal niat kita sudah kuat untuk memakainya karena Allah Swt, maka niat itu akan diterima dan sisanya, ya serahkan saja sama Allah karena Dia Maha Mengetahui semua permasalahan hamba-Nya. 


Selain itu, ini pendapat saya dulu ketika kembaran saya mengingatkan saya untuk berhijab dan mungkin banyak orang yang berpendapat sama seperti saya saat itu, “Ya udah..jilbabin dulu aja hatinya baru pake jilbab beneran”. Memang agak klise dan aneh sih alesan. Karena Allah kan nyuruhnya jilbabin rambut, bukan hati. Terus bagaimana kita sebagai seorang manusia bisa menunjukkan bahwa hati kita telah tertutup jilbab? Can anyone explain it to me? NO?!! Ya, mungkin itu alesan yang diada-ada menurut saya pada saat itu di saat saya belum siap menggunakannya. Berdasarkan pengalaman saya sesudah berhijab bahwa pada saat saya telah berjilbab secara fisik maka secara tidak langsung dan pelan-pelan saya berusaha untuk lebih menyempurnakannya dengan memperbaiki hati dan sikap saya yang selama ini salah atau keliru. Ya..percaya atau ga hal itu yang saya rasakan dan saat ini justru saya berpendapat bahwa yang benar itu berhijab dulu, sambil belajar memperbaiki hati dan perilaku agar terus menjadi lebih baik. Semua itu butuh proses, untuk itu perlu Learning by doing. Coba kita bandingkan dengan solat, yang sama-sama perintah Allah. Kalo kita nunggu khusyu ya ga bakal shalat-shalat sampai kapanpun atau saat disuruh shalat, apa kita pernah bilang, “yang penting shalatin hati dulu?” Jangan sampe karena kelamaan mikir, bukannya hati kita yang disolatin malah kita yang disolatin. Nauzubillah

Kamis, 25 Agustus 2011

Impian Mulia untuk Berkerudung

Blog ini ditulis mengingat ceramah Mamah Dedeh yang tadi sore saya dengar menjelang berbuka puasa yang isinya tentang betapa mulianya mengenakan busana muslimah yaitu berkerudung. Kalo masalah keinginan untuk berkerudung sebenernya sudah ada sejak saya mau masuk kuliah. Dulu pas SMA saya pengen banget bisa masuk ITB yang mayoritas muslim dan kebanyakan wanitanya berkerudung namun ternyata Allah berkehendak lain, saya malah masuk universitas katolik (UNPAR) yang mayoritasnya non-muslim. Akhirnya keinginan tersebut terkubur juga. Berhubung muka saya agak sedikit Chinese dan kampus kurang mendukung rencana saya jadi saya memutuskan menunda niat mulia tersebut. Dan kedua pas di RSPP, saya pernah bernazar kalau sampai kembaran saya diberikan kesembuhan, saya akan menggunakan kerudung. Namun, Allah berkata lain, kembaran saya dipanggil oleh-Nya dan niat tersebut tertunda lagi.
Dikelilingi orang berkerudung (Esti-saya-syifa)

Acara Buka bareng (sebelum saya berkerudung)
Jujur, hanya untuk ibadah di kampus saya aja susah, buat solat aja suka banyak hambatan dan godaan. Pernah suatu hari ketemu sama anak jurusan lain, yang notabene saya ga kenal tapi dia tau saya dan dia tiba-tiba nanya “Lo solat ya?”. Dalam hati saya Cuma bisa ngucap astaghfirullah, ada ya orang yang nanya pertanyaan ga penting gitu!

Namun, seiring berjalannya waktu , teman-teman bermain saya jaman SMP dan SMA banyak yang berjilbab dan diam-diam saya masih menyimpan keinginan berjilbab itu sambil mengamati cara mereka berjilbab. Satu per satu teman saya lainnya yang awalnya juga tidak mengenakan jilbab mulai memutuskan berjilbab. Hingga akhirnya teman saya berkata "tirulah hal yang baik-baik, jangan tiru yang jelek-jelek". Kadang juga suka merasa malu dengan diri saya sendiri yang masih belum menutup aurat. Pernah pas buka puasa bareng saya memutuskan untuk make kerudung (itu juga ga dari awal acara, tapi pas acara udah mau bubar). Yaa..memang memutuskan untuk berkerudung itu gak semudah membalikan telapak tangan. Awal saya pake pas acara bubar itu banyak komentar, mulai dari “Alhamdulillah ya, sekarang udah tobat” sampai yang paling lucu sih “Ih, kamu udah jadi mualaf ya sekarang?” :D. 
Ki-Ka: Saya, Dilla, Esti, Raissa

Prosen Menggunakan kerudung Gaul ala Esti
Taramm..saya dan penampilan muslimah (yang baju ijo)
Ya..harapan saya sih semoga secepatnya saya bisa jadi perempuan yang bener-bener berkerudung secara luar dalem. Berkerudung mukanya dan hatinya amin ya Allah ya Rabbal ‘alamin. Kita diberi jatah waktu hidup berapa lama di dunia ini oleh Allah kita nggak tahu juga kan? Insya Allah kematian bisa saya jadikan sebagai pengingat untuk selalu mengintrospeksi diri untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Dan jika dalam waktu dekat niat mulia itu terlaksana, semoga saya bisa menggunakan kerudung sampai maut menjemput saya nanti ya Allah ,amin :)

Kamis, 18 Agustus 2011

Yeay! Saya Resmi Jadi Anggota Sekaligus Panitia Conference IYM!


Saya exited banget ikutan Indonesian Youth Movement. Sebenernya saya udah lama nyari komunitas dan acara seperti ini karena sebelumnya saya sering melihat komunitas youth dari Global Changemakers dan sekarang  taraaa rarammmm..Bergabunglah saya di IYM (Indonesia Youth Movement). Menurut saya IYM sudah membuat banyak terobosan. Salut untuk para pendirinya. Kreatif banget idenya! Ada banyak alasan kenapa saya memutuskan untuk bergabung di IYM ini, pertama saya suka banget yang namanya ngumpul, apapun itu namanya, yang penting ngumpul baik sama keluarga, temen ataupun orang baru. Kedua saya senang ketemu sama orang-orang baru, mengenal karakter-karakter mereka sehingga membuat saya mudah untuk beradaptasi jika dihadapkan dengan dunia baru. Terakhir yang paling menarik adalah berdiskusi mengenai satu topik tertentu yang bisa menambah wawasan dan pengetahuan saya selain itu juga saya bisa mengatahui pandangan-pandangan dari teman-teman lainnya tentang isu-isu tertentu.
Jaket anggota IYM

Balik ke judul awal, saya sekarang sudah resmi jadi anggota sekaligus panitia conference IYM sebagai staff promosi. YEAYYY!! Ga sabar banget buat conference Oktober nanti karena ini merupakan pertama kali saya menjadi panitia conference, mana conference kali ini berskala nasional lagi. Semakin excited aja kalo ngebayanginnya, bisa ketemu berbagai orang dari berbagai kota di Indonesia. Conference kali ini kebetulan dilaksanakan di Bandung tepatnya di CCF pusat kebudayaan Prancis.
semoga dengan adanya IYM ini, Indonesia akan menjadi lebih baik! Semoga kita bisa menjadi pemuda/pemudi yang tidak apatis dan penuh inisiatif dalam membangun bangsa BECAUSE WE ARE THE FUTURE!!

Rabu, 17 Agustus 2011

WELCOME TO THE JUNGLE and Go On Fighting, MABA 2011!

Welcome to the jungle! Itu lah kata-kata yang pas menurut saya sebagai ucapan selamat datang kepada para mahasiswa baru 2011. Why jungle? Karena di universitas atau kampus, kita benar-benar dituntut harus bisa mandiri untuk bisa bertahan “hidup.”  Oke, balik ke topik awal. Waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Sekarang saya udah sampai pada tingkat akhir kuliah di kampus tercinta, UNPAR. Padahal, baru kemarin rasanya saya menjalani apa yang disebut INAP (Inisiasi dan Adaptasi). Bahkan saya masih ingat sebagian besar tugas yang diberikan oleh para senior pada saya pada saat itu. Saya beserta seluruh MaBa (Mahasiwa Baru) lainnya dari seluruh fakultas yang jumlahnya ribuan orang disatuin di GSG (Gedung Serba Guna) rasanya kayak pindang  kali yaa. Dempet-dempet bo! EH EH EH EH!enggak dong. UNPAR gitu! Tertata dengan baik, plus modal banget! iya ya?hahaha.. iya lah ruang GSG ditata dengan ratusan sampe ribuan kursi. ya intinya sih, PENUH BANGET!! tapi TERTATA *plokplokplokplok!!! di GSG, kerjaan gw duduk berjam-jam. pantat tepos *busshhhh!! ga deh, tetep bahenol kok. Kemudian dibagi kelompok karena saking banyak MaBa nya, kami dibagi jadi 4 kelompok besar. Disebut dengan SPOT. ada SPOT-A s.d SPOT-D gw ada di SPOT-D. HIDUP SPOT D! AJIIIIBBBB. Selama osgab kita main bareng di sana, ketawa-ketawa bareng, muter-muter UNPAR bareng. SERU BANGET!!!!!! BANGET! BANGET! beneran deh!!
INAP 2010
atas: Maya, herline, Griselda, Elisa, Louise ; bawah: saya
Ga kerasa itu 3 tahun yang lalu dimana saya menjadi yang namanya Mahasiswa Baru dan sekarang saya juga udah merasakan gimana rasanya ngospek Mahasiswa Baru. Seru! RAME BANGET! Bisa kenal sama junior dan dapet teman dan pengalaman baru. WOW deh rasanya!!

Mungkin ada beberapa mahasiswa baru yang bertanya ‘Apakah kegiatan pengenalan kehidupan kampus itu perlu?’ Mungkin akan ada banyak yang menjawab perlu, tetapi tidak sedikit saya kira yang merasa tidak perlu. Setiap orang pasti memiliki alasan tersendiri atas jawaban masing-masing. Saya menghormati semua jawaban itu.

Kalau menurut saya sendiri, kegiatan pengenalan kehidupan perguruan tinggi ini tentu sangat perlu mengingat bahwa kehidupan kampus jelas jauh berbeda dengan kehidupan SMP atau SMA. Mahasiswanya pun berasal dari berbagai daerah sehingga diperlukan adaptasi terhadap lingkungan barunya serta bagaimana aturan dan segala hal yang berlaku di perguruan tinggi tersebut yang sangat diperlukan selama ia menempuh pendidikan. Bila kita lihat dari aspek ini, maka jawabannya tentu perlu. Selain itu, dengan adanya pengenalan kehidupan kampus ini tentu sedikit banyak dapat mempererat persatuan di kalangan mahasiswa baru. Mereka dapat lebih mengenal teman-teman satu angkatan. Hal ini disebabkan akan ada kegiatan-kegiatan yang mengharuskan mereka bekerja sama secara kelompok sehingga secara tidak langsung mereka akan lebih mengenal teman-teman satu angkatan. Hal ini juga sangat baik saya kira. Akan tetapi, kenyataan tidaklah seindah teori-teori di atas.

Mungkin satu hal yang tidak disukai oleh mahasiswa baru pada saat ospek adalah senior yang marah-marah. Sebagian orang mungkin tahu kalau hal itu hanya pura-pura, tetapi apakah kegiatan ini semacam ini penting? Apakah mendidik disiplin dan mental seseorang harus dengan cara seperti ini? Saya sendiri tidak bisa menjawab dengan pasti hal ini, tetapi saya yakin salah satu caranya MUNGKIN seperti itu. Sebagai senior, kami tidak bisa menghindari adanya bentakan karena kalau tidak ada bentakan-bentakan dikhawatirkan mahasiswa baru akan menganggap remeh kegiatan ini. Kurang lebih seperti itulah jawabannya. Menurut saya yang penting jangan sampai terlalu berlebihan dan jangan sampai main fisik.

Menurut saya, kegiatan ospek sangat penting, dimana mahasiswa baru itu masih perlu banyak bimbingan dari senior-seniornya bagaimanakah prosedur perkuliahan, bagaimanakah prosedur akademik, prosedur administrasi dan prosedur tata tertib kampus.  Melalui kegiatan ini seharusnya dapat menanamkan pada mahasiswa baru bahwa ada banyak hal sulit yang menanti mereka di depan mata selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi, menanamkan bahwa kehidupan kampus tidak sama dengan SMA. Untuk menjadi mahasiswa haruslah berbeda dengan saat masih SMA, dibutuhkan mental dan kemampuan berpikir yang cermat dan tepat dalam menjalani semuanya serta sebagai mahasiswa harus memiliki dasar yang kuat dalam setiap hal yang kita lakukan sehingga kita dapat mempertanggunjawabkan semuanya. Hal-hal seperti itu yang ingin ditanamkan selama kegiatan ospek ini. Namun sayangnya, tidak semua MaBa dapat memahami hal-hal semacam ini. Sangat jarang sekali yang berpikir ke arah sana dalam keadaan tertekan saat dimarahi dan dibentak-bentak seperti itu.

Terakhir, yang saya harapkan dari kegiatan inisiasi dan adaptasi ini adalah semoga kegiatan pengenalan kehidupan kampus tahun ini dapat berlangsung lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga tidak akan ada lagi mahasiswa baru yang keluar dari kampus hanya karena tidak kuat dengan sistem pembinaan mahasiswa baru di kampus atau jurusannya. Sangat disayangkan ketika seseorang tidak dapat melanjutkan pendidikannya hanya karena kegiatan semacam ini. Dan untuk para mahasiswa baru, jangan takut dengan kegiatan ini, dijalani saja. INGAT! bahwa Ospek adalah sarana untuk membantu mahasiswa baru dalam beradaptasi terhadap lingkunganya yang baru. Sejauh mana mahasiswa baru itu dapat menangkapnya tergantung dari kualitas Ospek itu sendiri. Dan yang paling penting adalah kembali kepada mahasiswa baru itu sendiri

WELCOME TO THE JUNGLE… AND GO ON FIGHTING, MABA 2011 !!!

Jangan lupa sebelum berperang, asah SENJATA-nya dan atur STRATEGI-nya. Maksudnya SENJATA adalah otak kita dan STRATEGI adalah belajar. REMEMBER! Belajar itu tidak hanya di kelas saja, tetapi bisa dari berbagai sumber dan juga dengan berbagai cara.

Minggu, 31 Juli 2011

Now I'm ALONE

Kemaren saya nonton salah satu film Thailand berjudul Alone yang ditayangkan di Metro tv. Ceritanya tentang dua orang kembar siam bernama Pim dan Ploy. Pim adalah gadis manis yang sangat menyayangi saudaranya sedangkan Ploy cenderung lebih emosional dan pemarah. Saat mereka remaja, di rumah sakit mereka bertemu seorang anak laki-laki bernama Wee. Mereka berdua ternyata sama-sama menyukai Wee, namun hati Wee memilih untuk mencintai Pim. Ketika Wee sembuh, dan pada saat dia akan keluar dari rumah sakit, dia memanggil Pim untuk memberikan lukisannya pada pim. namun Ploy tidak mau keluar sehingga pim begitu marah dan sedih. Wee menitipkan lukisannya pada perawat. Pim memutuskan untuk berpisah dari ploy dan menjalankan operasi pemisahan namun Ploy menolak. Dengan marah ploy mencekik Pim sampai mati dan Ploy menggunakan identitas Pim untuk mendapatkan Wee tanpa diketahui siapapun kecuali ibunya. Ketika ibunya memberitahu Wee tentang kebenarannya. Wee pun marah pada Ploy dan meninggalkannya. namun Ploy tidak diam begitu saja.. Bagi ploy Wee harus mati kalau tidak ia miliki dengan menyiksa Wee dan membakar rumahnya. wee berhasil melarikan diri, namun ploy ditahan di dalam api oleh hantu Pim. Akhirnya Wee berziarah ke makam Pim dan meletakan kalung pemberiannya dulu di makam pim dan meminta maaf.
Film Alone
 Sebenernya film ini udah pernah saya tonton sebanyak dua kali, pertama dengan almarhumah kembaran saya dan kemaren sendirian. Dulu ketika saya nonton berduaan dengan almarhumah menurut saya film ini biasa saja, ga sedih sama sekali karena saya bukan tipe orang yang gampang terbawa suasana ketika menonton film. Namun, menurut almarhumah sebaliknya, dia pernah bilang "sedih ya kalo sampai ngalamin kejadian ky gitu". Tapi ketika saya menonton untuk kedua kalinya sendirian di rumah saya baru ngerasain ternyata film itu bener-bener sedih. Sedih banget malahan. Sampai saya nangis cecegukan (istilah sunda).

Ada beberapa adegan yang mengingatkan saya ke masa lalu, pas saya masih kecil selalu bareng sama kembaran saya, baju kita selalu kembaran hanya beda warna, kemana-mana selalu bareng sampai dulu waktu kecil setiap salah satu dari kita jatuh atau luka pasti yang satu lagi ikutan nangis.Dulu juga pas SMA kita pernah suka sama satu cowo yang sama tapi ga sampai bunuh-bunuhan kok :D Kita juga pernah berjanji akan bersama-sama terus sampai dewasa, sampai punya anak dan sampai semua mimpi-mimpi kita terwujud. Namun, ternyata Tuhan berkata lain, kalau dalam cerita Alone, mereka terpisah karena perbuatan yang disengaja (dibunuh) kalau saya dan kembaran saya terpisah secara mendadak karena takdir Tuhan. Satu pelajaran yang saya ambil dari meninggalnya kembaran saya ini adalah bahwa kita tidak akan pernah tau kapan, dimana dan seperti apa kita meninggal nantinya. Oke, now I'm alone, walaupun kamu udah ga ada dan bersama saya lagi di dunia ini sekarang dan sampai kapanpun, namun saya masih bisa merasakan kehadiran kamu yang begitu nyata. Satu kalimat yang belum sempet saya ucapin ke kamu. "Makasih buat semua hal-hal indah dan pelajaran-pelajaran yang kamu kasih ke saya selama ini, maaf..maaf banget kalau selama ini saya banyak salah sama kamu". Bulan Ramadhan ini pasti akan jauh berbeda dibandingkan dengan bulan-bulan Ramadhan sebelumnya karena udah ga ada kamu lagi ditengah keluarga, tapi saya berharap semoga di bulan yang baik ini saya bisa menjadi manusia yang lebih baik dan lebih kuat lagi dari sebelumnya. AMIN

Jumat, 29 Juli 2011

WISUDA! Moment Sekali Seumur Hidup yang Ditunggu-Tunggu

Hari ini adalah hari wisudaan salah satu senior saya bernama Tissa Amalia Rosanti, S.E. (harus dicantumin nih gelarnya. Kan udah sarjana..haha).
Tissa Amalia Rosanti, S.E.
Kalau ditanya gimana suasana wisuda tadi pagi. Ramai? Yup karena ini wisuda gelombang kedua (sebelumnya gelombang pertama bulan Februari) jadi banyak sekali para wisudawannya dan juga orang-orang yang ingin datang ke acara tersebut. Sehingga saya agak kebingungan mencari Tissa sang wisudawati yang ditunggu-tunggu :D. Saya dan teman saya sudah siap dengan seikat bunga yang kita siapkan sebelum bertemu (beli di depan kampus juga sih) karena tidak ada waktu lagi. Faktanya, ternyata kalau wisuda itu yang datang bukan hanya kedua orang tua, tapi seperangkat keluarga besar yang membuat jadi keadaan berubah menjadi sangat ramai. Mungkin karena bangga dan bahagianya keluarga besar hingga membuat mereka semua datang ke acara tersebut.

Waktu akhirnya bisa bertemu dan melihat para wisudawan/i, perasaan sedih, senang, bangga dan bahagia bercampur menjadi satu. Ada beberapa hal yang membuat saya terharu pada saat datang ke acara wisudaan. Melihat keluarga dan orang tua para wisudawan dan wisudawati yang mengantarkan, sungguh sangat bangga melihat anak-anak mereka sudah menjadi sarjana yang menjadi cita-cita semua orang tua di dunia ini.

Motivasi apa lagi yang ingin dicari ketika melihat para wisudawan/i? Hmm..saya jadi ingin cepat-cepat lulus, Mungkin 6 bulan lagi saya akan menyusul (AMIIIINNN….. *sambil teriak*). Saya membayangkan para wisudawan dan wisudawati telah melewati masa-masa senang dan sulit di UNPAR, khususnya Akuntansi. Mulai dari ospek, kuliah, praktika, ngerjain PR, paper, laporan, ujian, skripsi, sidang dan sebagainya. Saya akan menjadikan momen-momen seperti itu untuk diingat saat saya sedang putus asa, seperti saat belajar, stuck mengerjakan PR, paper dsb. Mungkin momen wisuda belum saya lalui, namun akan saya dambakan. Seperti saat kita berlari jauh, kita bayangkan saat-saat finish, tak terasa ada energi yang menarik dari depan dan telah membawa kita lari jauh.

Satu lagi di acara wisudaan ini, rasa BANGGA. Siapa sih yang tidak bangga di acara ini? Bagi para WISUDAWAN, sudah jelas bangga, baik lulusan muda maupun tua, IP pas-pasan apalagi yang cumlaude. Bagi para ORANG TUA, mungkin di momen seperti ini, orang tua sudah lepas dari tanggung jawab mendidik anaknya. Tak heran bila banyak orang tua menyuruh anaknya cepat-cepat lulus dibandingkan orang tua menyuruh anaknya lulus cumlaude atau menjuarai lomba. Bagi CIVITAS AKADEMIKA, mulai dari TU, karyawan, dosen, dekan mungkin juga rektor. Lihat anak-anak didik-nya lulus tentulah bangga, apalagi dirayakan secara meriah. Kampus kotor dan berantakan sekali-kali ga apa-apa deh.

Mungkin yang paling sebel pada saat momen wisuda adalah para pengguna jalan Ciumbuleuit. Pasti mereka berpikir “Bikin macet jalan aja acara wisudaan ini”. Hahaha. Maaf ya, namanya juga perayaan sekali seumur hidup ya,masbro/mbaksist.

Memang setiap ada yang pertemuan pasti ada perpisahaan, tapi semoga perpisahan itu bukan sebagai suatu ajang kita menjadi semakin jauh. Selamat untuk semua para wisudawan dan wisudawati yang sudah lulus. Spesialnya untuk senior saya Tissa Amalia Rosanti, S.E. Selamat ya, Tis! Semoga makin sukses di masa yang akan datang setelah lulus dari UNPAR dan bisa menjadi sarjana yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara. Ntar kalo udah sukses jangan sombong ya,Tis! Tetep humble dan jangan lupa tetep sering main bareng dan berbagi kisah sukses yaa! Miss you so much, dear!